Cerita Rismawan Memanusiakan Petani Jabar
(2 Juli 2026) Pernah nggak sih waktu kamu merobek bungkus kopi saset di pagi hari, tiba-tiba kepikiran: "Siapa ya orang yang metik biji kopi ini? Hari ini mereka udah makan belum, ya?"
Bagi sebagian besar dari kita, kopi mungkin cuma penahan kantuk di sela-sela tugas kuliah atau kerjaan yang menumpuk. Tapi bagi Rismawan Sulaiman, kopi adalah jembatan kemanusiaan. Lewat obrolan mendalam di Podcast UMKM Merdeka yang dipandu oleh Kang Ariep di studio Rumah Komunitas baru-baru ini, sebuah perspektif baru tentang isi dapur industri kopi Jawa Barat akhirnya dikupas tuntas.
Perjalanan Rismawan di dunia kopi sebenarnya gak direncanakan lewat meditasi atau kalkulasi bisnis yang rumit. Sambil tertawa, ia mengenang bagaimana awalnya ia justru "dijerumuskan" oleh temannya sendiri ke dalam bisnis hitam manis ini. Sebuah ketidaksengajaan yang awalnya terasa mistis—seolah digerakkan oleh "logika mistika" alias takdir yang di luar nalar.
Namun, alih-alih menyerah, Rismawan memilih bertahan. Konsistensinya berbuah manis saat ia berhasil meyakinkan investor. Kepercayaan itulah yang menjadi bahan bakar utama hingga usahanya melesat menjadi salah satu penyuplai kopi terbesar di Jawa Barat, yang kini rutin memasok ke pabrik-pabrik raksasa nasional, salah satunya Kapal Api.
Ada satu kalimat jleb dari Rismawan yang menampar anak muda zaman sekarang yang serba pengen instan:
"Kopi itu digiling, bukan digunting."
Bagi anak muda masa kini, kalimat ini bukan cuma soal cara menyeduh. Ini adalah sebuah filosofi hidup dan bisnis. Menghasilkan sesuatu yang bernilai tinggi itu butuh proses panjang, ditekan, dan digiling oleh ujian—bukan instan tinggal gunting layaknya kopi sasetan.
Hebatnya, proses "digiling" ini tidak membuat Rismawan menjadi pebisnis yang dingin dan hanya melihat angka di atas kertas untung-rugi. Ia justru membalikkan logika bisnis kapitalis lama. Fokus utamanya bukan cuma seberapa besar omset yang masuk ke dompetnya, melainkan seberapa sejahtera para petani lokal di tanah Jawa Barat yang menyokong usahanya.
Di saat banyak industri menekan harga beli di tingkat petani demi margin keuntungan yang tebal, Rismawan justru menerapkan sistem yang humanis. Baginya, petani kopi bukan sekadar buruh, melainkan mitra hidup. Mereka dirangkul, didengar, dan disejahterakan dengan sistem yang adil.
"Bagaimana kita bisa menikmati secangkir kopi yang nikmat, kalau keringat orang yang menanamnya justru berbau air mata?" Kurang lebih begitulah prinsip bergerak yang ditunjukkan Rismawan.
Langkah nyata yang dilakukan di perkebunan kopi Jawa Barat ini menjadi bukti nyata buat Gen Z kalau sociopreneurship (bisnis berbasis sosial) itu bukan cuma tren atau keren-kerenan di bio Instagram. Bisnis yang berkah dan bertahan lama adalah bisnis yang punya hati.
Lewat panduan hangat dari Kang Ariep, podcast ini sukses mengirimkan pesan kuat ke generasi muda: Kalau nanti kamu sukses bikin usaha, pastikan usahamu menjadi alasan orang lain bisa tersenyum dan hidup dengan layak. Jangan cuma jadi pebisnis yang sukses, jadilah pebisnis yang memanusiakan manusia (Vick/2/juli/2026